Tikus Terbakar di Rumah Presiden dan Mantan Presiden

Cerpen112 Dilihat

Di balik tembok dua rumah megah di sebuah kampung yang tenang penuh intrik, rumah presiden kampung dan rumah mantan presiden, segerombolan tikus mencari makan, hidup di celah-celah rumah yang gelap dan penuh bau amis. Di antara tikus-tikus itu, dua sosok paling berpengaruh sering jadi buah bibir: Omon-omon, tikus tua dengan badan montok dan mata yang mulai redup, dan Fufufafa, tikus kurus dengan gigi tajam serta gerak lincah bagai bayangan malam.

Sejak awal, Omon-omon dan Fufufafa tak pernah akur. Mereka sama-sama bercita-cita menjadi pemimpin kelompok tikus, menguasai lumbung padi, dan menentukan siapa yang boleh makan lebih banyak.

“Aku lebih tua, lebih berpengalaman. Semua tikus harus ikut aku!” teriak Omon-omon suatu malam, ketika sekumpulan tikus berkumpul di sudut lumbung.

Fufufafa menyeringai, ekornya melingkar tajam. “Tua bukan berarti kuat Om. Kau hanya lambat dan rakus. Jika aku yang memimpin, kita akan mencuri lebih banyak, lebih cepat, tanpa harus berbagi denganmu!”

Pertarungan pun tak terhindarkan. Mereka saling mencakar, menggigit, dan berguling di tumpukan jerami. Tikus-tikus lain menonton dengan waswas.

Malam itu, Fufufafa yang masih muda dan lincah berhasil menggulingkan Omon-omon. Sejak saat itu, kepemimpinan kelompok selalu diperebutkan dengan cara licik, penuh tipu muslihat, dan dendam yang tak kunjung padam.

Namun, waktu tidak pernah memihak siapa pun. Tahun demi tahun berlalu, Fufufafa makin berkuasa, sementara Omon-omon semakin renta, meski kebencian di dadanya tak pernah padam. Anehnya, justru di masa tuanya, Omon-omon melihat kenyataan pahit: Fufufafa, musuh yang dulu ia benci, sebenarnya memiliki tujuan sama, sama-sama mencuri demi menghidupi keluarga dan kelompok mereka.

Suatu malam, setelah kalah lagi dalam perebutan sisa padi, Omon-omon mendekati Fufufafa. Suaranya bergetar, namun penuh kesungguhan.

“Kita terus berperang, tapi apa hasilnya? Padi tetap habis, perut kita tetap lapar, dan tikus-tikus lain menonton kita seperti badut. Bagaimana kalau… kita berhenti bermusuhan?”

Fufufafa menatap tajam, semula ragu. Namun, setelah hening sejenak, ia menjawab lirih, “Kalau itu berarti aku bisa mencuri lebih banyak tanpa takut diserang dari belakang, aku setuju. Tapi ada syarat: kita saling melindungi. Jika aku jatuh, kau harus menutupiku. Jika kau tertangkap, aku yang akan mengalihkan perhatian. Kita satu rahasia, satu tujuan.”

Sejak malam itu, musuh bebuyutan berubah menjadi sekutu. Mereka menjarah lumbung bersama, menutupi jejak masing-masing, dan menyembunyikan hasil curian di balik lubang rahasia rumah presiden. Tikus-tikus lain menyebut mereka “dua musuh yang bersatu demi perut.”

Namun, masyarakat kampung makin resah. Lumbung mereka kosong bukan hanya karena ulah tikus, tapi juga karena presiden kampung yang rakus. Pajak padi ditarik besar-besaran, namun hanya untuk menggemukkan kelompoknya. Masyarakat yang lapar akhirnya marah, berdemonstrasi, membakar kantor penegak hukum, hingga akhirnya menjarah rumah presiden dan mantan presiden. Api menjilat atap, dinding runtuh, dan jeritan menggema di udara.

Di tengah kekacauan, Omon-omon dan Fufufafa terjebak di rumah presiden. Api sudah mengepung, asap menyesakkan. Mereka berlari mencari celah, namun jalan keluar tertutup.

“Fufu! Ke arah jendela!” teriak Omon-omon dengan suara serak.

“Aku tidak bisa! Asapnya terlalu tebal!” balas Fufufafa, batuk keras.

Mereka mencoba saling mendorong, menarik, tapi setiap langkah hanya membawa mereka lebih dekat pada api. Akhirnya, ketika tubuh mereka lemas, Omon-omon meraih Fufufafa, memeluknya erat.

“Siapa sangka, musuh sejatiku kini jadi sahabat terakhirku…” bisik Omon-omon.

Fufufafa tersenyum tipis, matanya mulai meredup. “Kita lahir sebagai musuh, tapi mati sebagai saudara…”

Api melahap segalanya. Dua tubuh kecil itu terbakar, namun tetap saling berpelukan hingga akhir.

Keesokan harinya, ketika masyarakat memandang reruntuhan rumah presiden dan mantan presiden, mereka hanya melihat abu dan sisa-sisa arang.

Tak ada yang tahu, di balik abu itu, pernah ada dua tikus yang sepanjang hidupnya berperang, lalu bersatu, dan akhirnya hancur bersama dalam pelukan yang terlambat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *