Para guru di SMAN 2 Fatuleu Barat yang memiliki alokasi jam kokurikuler pada mata pelajaran asuhannya mulai menyosialisasikan Program Kokurikuler Terpadu kepada seluruh peserta didik kelas X pada Kamis (3/9/2026) siang.
Program kokurikuler yang mengangkat tema “Pengelolaan Kebun Pisang sebagai Laboratorium Pembelajaran Lintas Mata Pelajaran” tersebut akan memanfaatkan kebun pisang yang berada di lingkungan sekolah sebagai sumber belajar kontekstual bagi siswa.
Sosialisasi menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kepada siswa mengenai konsep, tujuan, tahapan, serta bentuk kegiatan yang akan mereka jalani selama Tahun Pelajaran 2026/2027. Program ini dirancang dengan pendekatan Project-Based Learning (PjBL), sehingga siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi belajar melalui pengalaman langsung di lingkungan sekolah.
Melalui program tersebut, kebun pisang tidak hanya dipandang sebagai lahan tanaman milik sekolah, tetapi dijadikan laboratorium pembelajaran lintas mata pelajaran. Siswa akan diajak mengamati kondisi kebun, melakukan praktik dan pengukuran, mengumpulkan serta mengolah data dan informasi, menganalisis berbagai persoalan, mencari solusi, hingga menghasilkan karya berdasarkan pembelajaran yang dilakukan.
Dalam pelaksanaannya, masing-masing mata pelajaran tetap memiliki fokus dan kegiatan tersendiri. Biologi, misalnya, akan mengkaji pertumbuhan tanaman, struktur tumbuhan, ekosistem, dan keanekaragaman hayati. Fisika dapat mengkaji cahaya, suhu, air, kelembapan, energi, dan berbagai fenomena fisika di kebun. Sementara Kimia diarahkan pada kajian tanah, unsur hara, bahan organik, dan proses kimia yang berkaitan dengan tanaman.
Mata pelajaran lainnya juga memiliki ruang pembelajaran masing-masing. Matematika akan memanfaatkan kebun untuk kegiatan pengukuran, perhitungan, pengolahan dan penyajian data. Geografi mengkaji kondisi tanah, iklim, lokasi, lingkungan, dan pemanfaatan lahan. Sejarah mengangkat sejarah tanaman pisang, pertanian, serta hubungan manusia dengan lahan dan lingkungan. Ekonomi mengkaji nilai ekonomi, biaya dan hasil produksi, peluang usaha, serta pemanfaatan hasil kebun. Sementara Sosiologi dapat mengkaji interaksi sosial, pembagian peran, kerja sama, dan tanggung jawab selama kegiatan.
Adapun Bahasa Indonesia diarahkan untuk mengembangkan kemampuan wawancara, pengolahan informasi, penyusunan laporan atau artikel, dokumentasi, dan presentasi. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti menguatkan nilai syukur, tanggung jawab, kepedulian, dan menjaga lingkungan, sedangkan PJOK berfokus pada aktivitas fisik, kebugaran, keselamatan, kebersihan, dan perilaku hidup sehat.
Program tersebut tidak berhenti pada kegiatan praktik di kebun. Berdasarkan modul, kegiatan dilaksanakan mengikuti tahapan PjBL, mulai dari mengenali pertanyaan atau masalah, perencanaan, eksplorasi dan praktik, pengumpulan informasi dan data, analisis dan pengembangan, pembuatan produk, Expo, hingga refleksi. Dengan alur tersebut, setiap kegiatan yang dilakukan siswa diharapkan menjadi bagian dari satu proses pembelajaran yang saling berkaitan.
Dalam tahap awal program, siswa akan terlebih dahulu mengenali tema dan permasalahan yang dapat dikaji dari kebun pisang. Jadwal program mencatat bahwa kegiatan awal mencakup pengenalan program, orientasi, tema, pertanyaan pemantik, pembentukan kelompok, serta pembagian peran. Selanjutnya, siswa akan melakukan survei lahan, melihat kondisi awal kebun, melakukan pengukuran area, menyusun desain, dan membuat rencana kerja.
Salah satu bagian penting dalam program ini adalah penguatan literasi. Setiap kegiatan tatap muka akan dilanjutkan dengan tugas terbimbing yang dapat dikerjakan siswa di rumah atau lingkungan sekitar. Tugas tersebut bukan sekadar pekerjaan tambahan, tetapi menjadi kelanjutan dari kegiatan pembelajaran melalui aktivitas membaca, mencari informasi, mencatat, menulis, mengolah data, menyusun laporan, dan melakukan refleksi tertulis sesuai karakteristik mata pelajaran.
Program juga dirancang untuk mengembangkan berbagai kemampuan siswa, tidak hanya pengetahuan akademik. Modul menetapkan delapan dimensi Profil Lulusan yang dikembangkan melalui kegiatan, yakni keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi. Pengembangan tersebut dilakukan sepanjang proses, mulai dari perencanaan dan pengamatan hingga pembuatan karya, presentasi, Expo, dan refleksi.
Dari sisi pelaksanaan, kegiatan mata pelajaran akan dilakukan secara mandiri dan bergiliran, sedangkan kegiatan tertentu seperti perencanaan, monitoring, persiapan Expo, pelaksanaan Expo, dan refleksi dilakukan secara kolaboratif. Setiap pertemuan reguler dirancang selama 5 JP, terdiri atas 3 JP tatap muka dan 2 JP tugas terbimbing. Hasil kegiatan siswa kemudian dikumpulkan dalam portofolio sebagai dokumentasi proses dan perkembangan belajar.
Program kokurikuler tersebut dijadwalkan berlangsung secara bertahap hingga Mei 2027. Dalam modul, rangkaian kegiatan mencakup 22 pertemuan mata pelajaran, enam pertemuan kolaboratif, serta dua Pekan Kokurikuler/Expo. Expo pertama dijadwalkan pada November 2026 untuk menampilkan perkembangan dan hasil sementara proyek, sedangkan Expo kedua pada Mei 2027 menjadi puncak penyajian hasil akhir proyek.
Pada Expo I, siswa akan menampilkan perkembangan proyek seperti hasil pengamatan, data, laporan, poster, video, demonstrasi, maupun karya atau rancangan awal. Sementara pada Expo II, hasil yang ditampilkan merupakan karya yang telah dikembangkan dan disempurnakan berdasarkan proses sebelumnya, lengkap dengan analisis, dokumentasi, portofolio, presentasi, demonstrasi, dan refleksi akhir.
Dengan dimulainya sosialisasi kepada seluruh siswa kelas X, Program Kokurikuler Terpadu SMAN 2 Fatuleu Barat memasuki tahap awal pelaksanaan. Melalui program ini, kebun pisang diharapkan menjadi ruang belajar nyata yang memungkinkan siswa menghubungkan berbagai mata pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kerja sama, komunikasi, kemandirian, serta kepedulian terhadap lingkungan.

